Sadar selama ini lebih banyak mengeluhkan kesedihan hidup akan tetapi lupa menghitung seberapa banyak nikmat yang diberikan oleh sang pemilik semesta. ya.....terlalu drama mungkin saja pengaruh kebanyakan nonton drama korea hehehhehe.....lahh kok malah jadi salahin filmnya. Emang diri sendiri saja yang kurang bersyukur atau malah lupa bersyukur.....
Terlahir dari keluarga yang sederhana, bapak adalah seorang pegawai negeri sipil dan almarhum ibu adalah seorang tukang penjait merangkap sebagai ibu rumah tangga. Bapak termasuk seorang yang idealis dalam pekerjaannya seingat saya sihh,,,,sedangkan ibu adalah sosok yang rela berkorban demi kebahagiaan suami dan anak - anaknya.
Mungkin orang tua saya dulunya sangat mematuhi program pemerintah dua anak cukup, maka dari program tersebut saya hanya memiliki seorang kakak,,,sebenarnya sih lebih banyak lebih baik sihh biar kalo ditinggal pergi tidak merasa sebatang kara (ehh curhat lagi...). Di lihat dari segi wajah, saya dan kaka hampir memiliki wajah yang berbeda, yahh....ini berdasarkan fakta di lapangan, banyak teman - teman dari kakak yang tidak percaya kalo kita sodaraan. Well....walaupun muka kita berdua tidak sama tapi tetap kita sodaralah.....ehh tapi dulunya saya sering tidak akur sama kakak saya. Kebanyakan bertengkarnya entah itu urusan baju, uang atau sekedar melaksanakan pekerjaan rumah.
Berasal dari keluarga yang sederhana maka tentulah saya menjalani kehidupan yang sederhana dan alhamdulillah masih dikatakan berkecukupan. Kebutuhan saya akan makanan, pakaian dan pendidikan masih dipenuhi dengan baik oleh kedua orang tua saya. Sangat jelas diingatan kalau bapak selalu mengutamakan kebutuhan pendidikan di atas segalanya (semoga saya bisa mengaplikasikannya nanti yahh...kepada anak - anak saya tentunya).
Menjalani kehidupan dengan baik, berbagai tingkatan pendidikan pun diselesaikan dengan baik mulai dari Taman Kanak-kanan sampai dengan Perguruan Tinggi Strata Satu (S1). Orang tua saya selalu memenuhi apapun kebutuhan yang saya perlukan. Tak lupa pula orang tua saya selalu mengajari untuk selalu menjadi anak yang mandiri. Hal inilah yang selalu saya syukuri, yahh kalau saja dulu ajaran orang tua saya lebih kepada memanjakan mungkin saya tidak akan semandiri ini.
Selepas menyelesaikan pendidikan Strata satu dengan tepat waktu (4 Tahun), bisa dibilang saya orang yang cepat mendapatkan pekerjaan. Sebulan setelah wisuda saya mengikuti tes penerimaan calon pegawai negeri sipil (padahal cita - citanya mau jadi dosen lohh). Pengumuman dari tes tersebut sebulan setelahnya dan saya dinyatakan lulus, waktu itu banyak yang bilang sih saya beruntung karena sekali tes ehh sudah lulus tapi menurut saya biasa - biasa saja.
Tiga tahun menjalani rutinitas sebagai aparatur sipil negara, terbesit keinginan mewujudkan cita - cita lama untuk melanjutkan pendidikan kembali. Alhamdulillah Pemerintah berbaik hati menyediakan program beasiswa bagi pegawai yang ingin melanjutkan pendidikannya. Hanya saja waktu itu perencanaannya belum maksimal, walaupun lulus seleksi beasiswa dan akademik saya memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan emas tersebut. Ada beberapa hal yang menjadi alasannya yang tidak bisa saya ceritakan disini hihihihi....sokk sokk misterius.
Akhirnya dengan alasan yang logis saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari beasiswa tersebut. Akan tetapi niat saya untuk melanjutkan pendidikan tetap membara, yahhh walaupun memutuskan untuk kuliah dalam kota saja dengan beberapa pertimbangan tentunya.
Namanya juga manusia yah....manusia punya rencana Tuhan yang menentukan hahhahahaa...it's laiiiifff. Tahun berikutnya setelah memutuskan untuk melanjutkan kuliah dalam kota, tidak sengaja ketemu dengan teman kantor sekaligus teman kuliah S1. Kebetulan beliau adalah pengurus program tubel di Propinsi yang saya tempati. Maka saya di tawarilah untuk kembali mengikuti seleksi beasiswa tapi dengan universitas yang berbeda.
Seketika Iman saya goyah, mulai kembali melirik program beasiswa yang saya idam idamkan. Maklumlah yahh....saya hanya Pegawai Negeri Sipil biasa dengan gaji pas - pasan untuk melanjutkan program magister dengan biaya sendiri tentunya akan sangat berat terasa. Akhirnya dengan beberapa pemikiran dan pertimbangan saya kembali memutuskan untuk mengikuti (lagi) seleksi beasiswa tersebut dengan tujuan universitas yang berbeda. Dan lagi - lagi mengucap syukur yang tak terhingga saya kembali dinyatakan lulus, baik seleksi beasiswa dan akademiknya.
Yah...sekarang hampir dua tahun menjadi mahasiswi pasca sarjana di salah satu universitas unggulan di Indonesia Timur. Banyak cerita yang telah di ukir, sedih, susah, senang, lucu, bahagia, bangga dan lainnya semuanya campur menjadi satu. Bisa di bilang pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan dalam perjalanan kehidupan. semoga di akhir masa pendidikan ini saya bisa menghabiskannya dengan memori yang lebih indah dan lebih berkesan. Saya pasti akan merindukan kisah ini kembali...tetapi bukan untuk di ulang yah hihihihihihihiihh
Untuk sampai diposisi ini tentunya bukan hal yang mudah, akan tetapi akan sangat bodoh ketika saya masih lagi mengeluhkan tentang apa yang telah saya miliki sekarang. Mungkin banyak orang yang menginginkan untuk berada diposisi saya sekarang....lalu mengapa saya masih mengeluhkan hidup yang terlalu indah ini ohh Tuhan jauhkan saya dari kuffur nikmat.....
Yahh....harapannya semoga bisa segera menyelesaikan tugas akhirnya dengan baik dan kembali berkarya. Banyak mimpi yang ingin di wujudkan, salah satunya bisa memberikan manfaat bagi orang disekitar.....
Aminnnnnnnn..... :)
Terlahir dari keluarga yang sederhana, bapak adalah seorang pegawai negeri sipil dan almarhum ibu adalah seorang tukang penjait merangkap sebagai ibu rumah tangga. Bapak termasuk seorang yang idealis dalam pekerjaannya seingat saya sihh,,,,sedangkan ibu adalah sosok yang rela berkorban demi kebahagiaan suami dan anak - anaknya.
Mungkin orang tua saya dulunya sangat mematuhi program pemerintah dua anak cukup, maka dari program tersebut saya hanya memiliki seorang kakak,,,sebenarnya sih lebih banyak lebih baik sihh biar kalo ditinggal pergi tidak merasa sebatang kara (ehh curhat lagi...). Di lihat dari segi wajah, saya dan kaka hampir memiliki wajah yang berbeda, yahh....ini berdasarkan fakta di lapangan, banyak teman - teman dari kakak yang tidak percaya kalo kita sodaraan. Well....walaupun muka kita berdua tidak sama tapi tetap kita sodaralah.....ehh tapi dulunya saya sering tidak akur sama kakak saya. Kebanyakan bertengkarnya entah itu urusan baju, uang atau sekedar melaksanakan pekerjaan rumah.
Berasal dari keluarga yang sederhana maka tentulah saya menjalani kehidupan yang sederhana dan alhamdulillah masih dikatakan berkecukupan. Kebutuhan saya akan makanan, pakaian dan pendidikan masih dipenuhi dengan baik oleh kedua orang tua saya. Sangat jelas diingatan kalau bapak selalu mengutamakan kebutuhan pendidikan di atas segalanya (semoga saya bisa mengaplikasikannya nanti yahh...kepada anak - anak saya tentunya).
Menjalani kehidupan dengan baik, berbagai tingkatan pendidikan pun diselesaikan dengan baik mulai dari Taman Kanak-kanan sampai dengan Perguruan Tinggi Strata Satu (S1). Orang tua saya selalu memenuhi apapun kebutuhan yang saya perlukan. Tak lupa pula orang tua saya selalu mengajari untuk selalu menjadi anak yang mandiri. Hal inilah yang selalu saya syukuri, yahh kalau saja dulu ajaran orang tua saya lebih kepada memanjakan mungkin saya tidak akan semandiri ini.
Selepas menyelesaikan pendidikan Strata satu dengan tepat waktu (4 Tahun), bisa dibilang saya orang yang cepat mendapatkan pekerjaan. Sebulan setelah wisuda saya mengikuti tes penerimaan calon pegawai negeri sipil (padahal cita - citanya mau jadi dosen lohh). Pengumuman dari tes tersebut sebulan setelahnya dan saya dinyatakan lulus, waktu itu banyak yang bilang sih saya beruntung karena sekali tes ehh sudah lulus tapi menurut saya biasa - biasa saja.
Tiga tahun menjalani rutinitas sebagai aparatur sipil negara, terbesit keinginan mewujudkan cita - cita lama untuk melanjutkan pendidikan kembali. Alhamdulillah Pemerintah berbaik hati menyediakan program beasiswa bagi pegawai yang ingin melanjutkan pendidikannya. Hanya saja waktu itu perencanaannya belum maksimal, walaupun lulus seleksi beasiswa dan akademik saya memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan emas tersebut. Ada beberapa hal yang menjadi alasannya yang tidak bisa saya ceritakan disini hihihihi....sokk sokk misterius.
Akhirnya dengan alasan yang logis saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari beasiswa tersebut. Akan tetapi niat saya untuk melanjutkan pendidikan tetap membara, yahhh walaupun memutuskan untuk kuliah dalam kota saja dengan beberapa pertimbangan tentunya.
Namanya juga manusia yah....manusia punya rencana Tuhan yang menentukan hahhahahaa...it's laiiiifff. Tahun berikutnya setelah memutuskan untuk melanjutkan kuliah dalam kota, tidak sengaja ketemu dengan teman kantor sekaligus teman kuliah S1. Kebetulan beliau adalah pengurus program tubel di Propinsi yang saya tempati. Maka saya di tawarilah untuk kembali mengikuti seleksi beasiswa tapi dengan universitas yang berbeda.
Seketika Iman saya goyah, mulai kembali melirik program beasiswa yang saya idam idamkan. Maklumlah yahh....saya hanya Pegawai Negeri Sipil biasa dengan gaji pas - pasan untuk melanjutkan program magister dengan biaya sendiri tentunya akan sangat berat terasa. Akhirnya dengan beberapa pemikiran dan pertimbangan saya kembali memutuskan untuk mengikuti (lagi) seleksi beasiswa tersebut dengan tujuan universitas yang berbeda. Dan lagi - lagi mengucap syukur yang tak terhingga saya kembali dinyatakan lulus, baik seleksi beasiswa dan akademiknya.
Yah...sekarang hampir dua tahun menjadi mahasiswi pasca sarjana di salah satu universitas unggulan di Indonesia Timur. Banyak cerita yang telah di ukir, sedih, susah, senang, lucu, bahagia, bangga dan lainnya semuanya campur menjadi satu. Bisa di bilang pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan dalam perjalanan kehidupan. semoga di akhir masa pendidikan ini saya bisa menghabiskannya dengan memori yang lebih indah dan lebih berkesan. Saya pasti akan merindukan kisah ini kembali...tetapi bukan untuk di ulang yah hihihihihihihiihh
Untuk sampai diposisi ini tentunya bukan hal yang mudah, akan tetapi akan sangat bodoh ketika saya masih lagi mengeluhkan tentang apa yang telah saya miliki sekarang. Mungkin banyak orang yang menginginkan untuk berada diposisi saya sekarang....lalu mengapa saya masih mengeluhkan hidup yang terlalu indah ini ohh Tuhan jauhkan saya dari kuffur nikmat.....
Yahh....harapannya semoga bisa segera menyelesaikan tugas akhirnya dengan baik dan kembali berkarya. Banyak mimpi yang ingin di wujudkan, salah satunya bisa memberikan manfaat bagi orang disekitar.....
Aminnnnnnnn..... :)
Komentar
Posting Komentar